Oh tidaaaaakkkk….. darah apa ini? kenapa banyak darah yang berceceran dilantai di depan kamarku? kemana bunda? kemana titam? Dengan penuh penasaran dan kecemasan aku melangkah pelan-pelan sambil kakiku jinjit masuk rumah dengan memeriksa semua ruangan hingga ke dapur tapi tak satupun jawaban ku temui ada apa yang terjadi. Aku terus memanggil-manggil bunda dan titam tapi tetap saja tidak ada sautan, aku kembali mengingat sudah berapa lama aku meninggalkan rumah untuk bermain di rumah temanku bernama Mas Aldo.

Kesrek-kesrek pelan terdengar suara berisik dari kamarku dan dengan cekatan aku berlari mencari suara itu datangnya, tetapi tak kutemui apa-apa juga. Dengan suasana yang makin menakutkan membuat aku merinding aku terdiam berdiri di depan pintu kamarku dimana suara kesrek tadi berasal yang aku dengar. Kurang dari 3 menit aku menunggu tiba-tiba kaki mungil berbulu putih itu muncul dari bawah tempat tidurku sambil mengintipkan kepalanya. Astagaaaa… Titam, apa yang terjadi batinku berkata karena aku melihat mulut Titam dipenuhi darah merah segar. Pelan-pelan aku melihat ke bawah kolong tempat tidurku. Ya Allah, ternyata Titam baru saja berhasil berburu seekor ular yang lumayan besar dan dia memotong badan ular tersebut hingga menjadi 3 bagian, karena aku takut ular maka aku berlari ke arah dapur mencari sepotong kayu yang bisa membuat aku berjaga-jaga memukulkan tongkat kayu tersebut pada kepala ular yang besar tadi. Eh iya, bukannya ular besar itu sudah mati ya dibunuh Titam batinku berkata, kenapa aku harus takut lagi? akupun jadi malu dengan tingkahku yang ketakutan pada hewan melata yang sudah jadi bangkai itu.

Kejadian sore ini benar-benar membuatku makin sayang sama Titam si kucing kampung yang menjadi hewan kesayangan di rumahku ini karena seringnya dia menyelamatkan aku dan ayah bundaku dari serangan hewan liar yang masuk ke rumah kami karena kata bunda rumah kita ini masih dikelilingi sawah kiri kanan depan dan belakang jadinya rumah kita sering kemasukan ular, belalang, kaki seribu, kadal dan binatang-binatang sawah lainnya. Semua hewan-hewan itu selalu diserang oleh Titam jika ada yang mencoba masuk ke rumah kami.

Makhluk berbulu menggemaskan ini yang selalu menemani hari-hari bermainku di rumah adalah dia kucing kesayanganku, walaupun ia jenis kucing kampung tapi wajahnya imut dan lucu dan aku beri nama ia Titam karena warna bulu nya putih dan hitam, jadi Titam artinya putih hitam. Sejak adanya Titam di rumah ini yang selalu dengan setia membangunkan aku sehingga aku rajin bangun subuh dan  menjadikan aku rajin shalat subuh diawal waktu dan sering juga bersama ayah aku shalat subuh di mesjid.

Menurut cerita bunda kenapa aku dibolehkan merawat kucing karena bunda ingin mengajarkan padaku untuk membiasakan diri dalam hal Sodaqoh di pagi hari. Maksud bunda dengan aku memelihara kucing maka setiap pagi kita memberi ia makan dan minum dan menyayangi nya artinya aku ditempa untuk membentuk karakter diri dalam membiasakan bersodaqoh di pagi hari.

Titam juga makhluk Allah yang wajib dilindungi dan disayangi dan aku juga pernah mendengar cerita dari ustad Zen waktu kelas 2 kata beliau kucing adalah hewan kesayangan Nabi Muhammad SAW.  Ibunya Titam namanya Ciput yang artinya si putih karena ia berbulu putih dan Titam punya saudara yang bernama Bellu artinya belang Telu. Waktu titam dengan saudara nya bermain diluar rumah lama sekali hingga sore hari tiba-tiba yang pulang ke rumah hanya Titam saja sedangkan saudaranya si Bellu tidak kembali lagi pulang ke rumahku. Sejak itu saudara Titam hilang entah kemana. Ibunya Titam menjadi resah dan sedih dan akhirnya pergi mencari-cari saudara Titam yang hilang si Bellu itu. Apakah karena sedihnya ibu titam sebab kehilangan anaknya akhirnya ia mencari tanpa kenal waktu dan tidak pernah  pulang ke rumahku kembali. Akhirnya tinggallah Titam sendirian hingga sekarang dan aku hanya punya sisa kucing satu ekor saja si Titam itu.

Pagi hari diruang kelasku 4C saat Ustazdah Luci mengajarkan pelajaran Tematik Tema 3 yang berjudul Peduli Terhadap Makhluk Hidup, aku menjadi sangat mudah memahami pelajaran itu mengenai bagaimana cara kita memelihara hewan kesayangan dirumah. Pertanyaan dari ustazdah Luci dapat aku jawab dengan cepat dan tepat yaitu dengan memberi mereka makan, minum, membersihkan kandangnya, memandikannya, memberi vitamin dan mengobatinya jika mereka sakit. Alhamdulillah aku senang sekali karena jawabanku dibenarkan ustazdah dan aku mendapat nilai bagus. Walaupun belum semua mata pelajaran nilaiku bisa bagus semua setidaknya aku berjanji terus berusaha rajin belajar dan benar. Kata bundaku jika ilmu yang diperoleh dari praktek akan lebih gampang untuk kita mendapatkan nilai yang bagus dan semoga aku dapat mempraktekkan ilmu yang aku terima sehingga baguslah semua nilai ku nanti.

Bel tanda masuk setelah istirahatpun berbunyi, aku sudah bersiap lagi menerima pelajaran berikutnya yaitu Bahasa Inggris dengan Ustazdah Anis. Ustazdah Anis menyuruh kami membuka buku paket Bab 4 tentang What Do You Want to Be ? Tiba-tiba Ustazdah bertanya padaku “ Mas Falih, What do you want to be ? Dengan senyum malu-malu akupun menjawab “  I want to be a Veterinarian “.  Semoga suatu hari nanti cita-citaku dikabulkan Allah SWT menjadi seorang dokter hewan karena kecintaanku pada binatang kesayanganku si Titam. Aamiin.

Maghrib hari jumat itu adalah suasana sangat membuatku sedih. Aku melihat bunda dan ayah seperti tergesa-gesa kecemasan sambil menggendong Titam masuk ke dalam mobil. Kata bunda sudah dua hari si Titam selalu tidur dan murung saja. Ternyata kecurigaanku benar kalau Titam sakit sebab makanan yang ku taruh dipiring dia sudah dua hari ini tidak berkurang mungkin nafsu makannya tidak ada karena sakit. Akhirnya Titam terpaksa dirawat di tempat drh. Rico klinik Hewan yang juga teman ayahku. Aku hanya bisa melihat Titam melalui foto dan video yang dikirim drh Rico ke WA ayahku, terlihat si Titam dipasangkan infus dan diberi suntikkan. Besok siangnya aku disampaikan ayah pelan-pelan dengan wajah sedih bahwa si Titam tidak bisa terselamatkan lagi oleh serangan virus panleo yang begitu mengganas ditubuhnya sehingga menutup matanya selamanya.

Selamat jalan Titamku sayang, aku akan selalu mengenangmu dalam doa-doa ku dan aku berjanji akan lebih giat lagi belajar demi suatu hari aku besar nanti dengan cita-citaku bisa menyelamatkan titam-titam lainnya dari serangan berbagai penyakit.

Karya Terbaik Pertama Kategori 2 dalam Rahmat Olimpiade Menulis Online

Penulis : Muhammad Falih Juan – Kelas 4C


Mau tau cerpen seru dan inspiratif lainnya? Mau dapetin bukunya? Yuks segera PO aja dengan cara kontak wali kelas masing-masing ya atau kontak bang jon – 0822 3363 8107 atau kontak Ustadah Luci – 0813 3561 6881 atau langsung klik disini



Tinggalkan Balasan

six + 11 =