Program sekolah Adiwiyata  menjadi momentum untuk memupuk kepedulian lingkungan bagi siswa SD Plus Rahmat Kota Kediri. Bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, SD Plus Rahmat melakukan edukasi pemilahan sampah dan pembuatan kompos padat dan cair.

Persiapan Edukasi Memilah Sampah dan Pengomposan Tetap Memperhatikan Prokes

Kegiatan ini melibatkan siswa, guru dan seluruh warga sekolah. Diawali dengan edukasi bagaimana memilah sampah dan cara membuat kompos padat dan cair kepada 26 siswa kelas 6 SD Plus Rahmat Kota Kediri.  Anak-anak diberikan kesempatan mencatat, agar informasi bisa terserap sempurna.

Penjelasan sederhana pemateri bagaimana membedakan sampah organik dan anorganik sangat mengena. “Plastik siapa yang membuat?” Kata Pak Kasiono, seorang pemateri dari DLHKP kepada siswa kelas 6. ”Manusia!” jawab siswa, serempak. “Nah, berarti itu masuk dalam jenis sampah anorganik, mudah bukan? ” lanjut Pak Kasiono.

Semua benda yang dibuat melalui campur tangan manusia  adalah sampah anorganik, maka semua benda yang diciptakan Allah adalah sampah organik. Begitu juga dengan sampah organik. Pak Kasiono juga menjelaskan bahwa daun diciptakan Allah, maka daun termasuk sampah organik. Sampah organik itu sendiri adalah sampah yang mudah terurai dengan sendirinya oleh alam, seperti daun kering, sisa sayuran, sisa makanan, dan bahan lainnya. Sedangkan sampah anorganik tidak bisa diurai secara alamiah oleh alam, contohnya plastik, kain, kertas, logam, dan bahan lainnya.

Pak Kasiono, Pemateri dari DLHKP sedang Memberikan Materi

Memilah sampah erat kaitannya dengan karakter peduli lingkungan yang harus ditekankan kepada para siswa. Seperti yang disampaikan Kepala SD Plus Rahmat Kota Kediri, Ustadzah Yuni, saat memberikan sambutan dan motivasi di aula kelas 6 tersebut. “Pentingnya mengolah sampah yang dilakukan seluruh warga sekolah terutama siswa-siswi SD Plus Rahmat ini akan membuat sekolah kita menjadi bersih, asri dan nyaman untuk belajar” kata Ustadzah Yuni.

Anak-anak diajak praktik langsung membuat kompos padat dan cair dengan benar. Seluruh siswa diarahkan menuju halaman sekolah. Anak-anak dibagi menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok didampingi satu ustadzah. Pembinaan secara langsung dilaksanakan oleh sekitar 8 orang pembina dari DLHKP dengan sangat sabar dan terarah.

Siswa sangat antusias melakukan tahapan demi tahapan praktik. Belajar secara langsung memang membuat mereka lebih semangat dan cepat menyerap materi yang diberikan. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa siswa yang kritis bertanya. “Apa fungsi kompos cair ini kalau sudah jadi?” kata seorang siswi. Dijelaskan oleh pemateri bahwa pupuk cair ini digunakan untuk merawat dan membuat tanaman agar bertambah subur. Pertanyaan tidak hanya berhenti disitu, namun meluas dan disambut pertanyaan lain oleh ustadz dan ustadzah.

Pemateri dari DLHKP sedang Menunjukkan Contoh Cara Membuat Kompos Cair

Siswa Mengikuti Tahapan Pengadukan dan Pencampuran Sampah Susulan dalam Membuat Kompos Cair

Tampak Salah Satu Kelompok Melakukan Tahapan Pencampuran dalam Pembuatan Kompos Padat

Beberapa Ustadzah sedang Melakukan Proses Penyimpanan Kompos Padat

Setelah kegiatan, edukasi tidak akan berhenti sampai hari ini. Seluruh warga sekolah harus berperan aktif dalam menjaga kompos cair dan padat hingga panen dan menjadi kompos yang siap digunakan. Untuk pembuatan pupuk cair harus di aduk setiap 3 atau 4 hari sekali. Minimal setelah 40 hari akan bisa dipanen dan dimanfaatkan. “Namun lebih bagus lagi jika dipanen dalam waktu 3 bulan” ujar Pak Kasiono.

Kondisi pandemi tak menyurutkan langkah untuk belajar dan bereksplorasi ilmu, namun tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan baik menggunakan masker dan rajin mencuci tangan. Memilah sampah dan membuat kompos merupakan salah pembiasaan baik dimana menjadi salah satu life skill (kecakapan hidup) yang tentunya sangat bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Semangat untuk terus peduli terhadap lingkungan ya siswa-siswi SD Plus Rahmat tercinta. Jadikan sekolah kita tercinta ini menjadi sekolah yang bersih, asri, hijau, dan nyaman untuk belajar… ! (Luci Apriliasari, S.TP.,S.Pd.)

Tinggalkan Balasan

20 − 15 =