Menoleh sejarah 14 September sebagai hari kunjung Perpustakaan,

Tidak banyak yang tahu memang jika di kalender nasional, bulan September dikenal sebagai Bulan Gemar Membaca. Pada bulan ini, ada dua moment  yaitu peringatan hari aksara internasional pada 8 September, dan hari kunjung perpustakaan pada 14 September.

Hari Kunjung Perpustakaan ini pada awalnya diselenggarakan oleh mantan Presiden Suharto tepatnya pada tanggal 14 September 1995. Pada saat itu sebenarnya selain disebut sebagai Hari Kunjung Perpustakaan juga dijadikan sebagai gerakan untuk mencanangkan Bulan Gemar membaca yang dicanangkan pada hari yang sama yaitu tanggal 14 September.

Peringatan tersebut setidaknya membuat kita kembali berkaca dalam momentum mendekatkan perpustakaan kepada masyarakat dan siswa pada khususnya untuk kembali menggiatkan  budaya membaca di Indonesia yang masih lesu.

Budaya membaca atau dikenal dengan Literasi turut mempengaruhi sejauh mana kualitas bangsa tersebut. Kecakapan literasi menandai kualitas sumber daya manusia di sebuah Negara, sayangnya performa Indonesia dalam asesmen literasi pada skala Internasional  belum terlalu baik. Peringkat Indonesia pada survey Program for International Student Assessment PISA OECD 2015 menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat 69. Jauh dari Negara Singapura yang menempati peringkat satu, dan masih dibawah garis peringkat Negara Malaysia. Kecakapan literasi dalam konteks pendidikan di abad 21 adalah meliputi Literasi membaca dan menulis. Literasi Numerasi, Literasi Sains, Literasi Finansial, Literasi Digital, dan Literasi Budaya dan Kewarganengaraan.

Eksistensi Perpustakaan dalam Budaya Membaca

Wali Kota Kediri (Abu Bakar, SE)
Membuka acara Lounching GLS SD Plus Rahmat

Menoleh kembali peranan perpustakaan sekolah dalam Gerakan Literasi Sekolah atau GLS di SD Plus Rahmat sudah dimulai sejak dua tahun lalu. Tepatnya di bulan Februari 2017. Perpustakaan SD Plus Rahmat menjadi sekolah pertama yang menggerakkan aksi Literasi nyata dengan mewujudkan upaya aktif untuk membudayakan gemar membaca di lingkungan sekolah yang dikemas dalam tajuk “SD Plus Rahmat Membaca”. Dukungan dan apresiasi turun langsung dari Bapak Walikota Kediri, Abu Bakar,SE. yang pada waktu itu melaunching kegiatan tersebut.

Menciptakan lingkungan yang literat, kaya dengan bahan bacaan, dan medekatkan akses buku bacaan kepada siswa menjadi hal yang urgent untuk dilaksanakan. Perpustakaan sekolah menjadi fasilitator dan penggerak dalam pembentukan budaya baca bagi siswa dan guru. dengan melaksanakan program unggulan Literasi.

Sekedar Seremonial

Selama ini perpustakaan memiliki cara masing-masing dalam memperingati hari kunjung perpustakaan. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk menarik perhatian pemustaka untuk berkunjung. Meski demikian, perayaan hari kunjung Perpustakaan janganlah hanya sekedar seremonial belaka. Spirit atau Ghirah dalam mengembangakn budaya membaca harus selalu ditanamkan. Agar nantinya Indonesia tidak hanya dikenal sebagai Negara yang kaya akan hasil sumber daya bumi, adat istiadat dan keberagaman saja, Harapan kedepannya Indonesia juga dikenal sebagai Negara yang besar tidak hanya bermodalkan kekayaan alam melimpah tetapi juga kualitas manusia, termasuk kualitas budaya baca yang dimiliki bangsanya. Kedepannya, kegiatan dan program Perpustakaan SD Plus Rahmat akan terus bergerak maju, tidak hanya memupuk budaya baca di sekolah, tapi juga membawa budaya itu pulang ke rumah, mengimbas kepada Ayah Bunda dan keluarga. Sehingga terwujud sinergi antara Literasi di sekolah, dan lingkungan afeksi literasi di rumah. Perpustakaan Rahmat, insya’Allah bermanfaat untuk ummat, sejalur dengan nafas islam Rahmatan Lil Alamin. Salam Literasi! (Kinan Esty_Librarian)

Tinggalkan Balasan

five × four =