(Foto : berbagai sumber internet)

Oleh : Ruhana Mayasari, S.Ag

“SD Plus Rahmat memberi ilham bagi seluruh warganya untuk menciptakan kesadaran spiritual yang tak lagi beku oleh waktu.”

Ragam prestasi telah mengantar SD Plus Rahmat pada raihan pujian dan banjir peminat ketika PPDB.  Namun, pada waktu yang lain prestasi SD Plus Rahmat juga pernah mengalami penurunan. Jangan kaget! Di Kediri kota, ada banyak sekali SD yang berprestasi. Kalau tidak muridnya yang memenangkan berbagai event lomba, gurunya pun turut berkompetisi di ajang guru berprestasi. Tak lupa, Kepala Sekolahnya ikut-ikutan berlomba memperebutkan medali emas sebagai “Kepala Sekolah Berprestasi”.

Hanya saja, dominasi prestasi itu tidak melulu satu SD. Terkadang dipegang SD Swasta, terkadang juga SD Negeri. Hal ini juga dialami oleh SD Plus Rahmat yang tergolong muda usianya, masih 14 tahun. Semua sebagai langkah motivasi untuk semakin berbenah diri menjadi yang terbaik. Meskipun terbilang masih baru, alhamdulillah USBN tertinggi telah diraih SD Plus Rahmat.

Menghadapi fenomena pasang surut nilai, SD Plus Rahmat pernah pula menduduki peringkat ke-3 nilai UASBN. Padahal sebelumnya wali murid dan para guru sudah sangat optimis, SD Plus Rahmat tetap menjadi Jawara UASBN. Alih-alih begitu, prestasi emas tetap bisa diraih SD Plus Rahmat untuk bidang Robotika di ajang Internasional, Juara 2 Karate tingkat Internasional, Komputer Kids, MIPA, International Mathematic, Teknologi Daur Ulang, Siswa Berprestasi, Pidato, Melukis, Jambore Nasional, Lingkungan Hidup, Bahasa Arab, Budaya Mutu, OSN, CORSA dan Widya Pakerti Nugraha.

Beginilah prestasi. Kadang naik, kadang turun. Tapi satu yang harus tetap kita pegang teguh adalah  Positivity. Menurut pengalaman dan pembelajaran saya, dalam kondisi apapun kita harus tetap berpikir dalam kerangka  positif secara total.  Artinya, kita sungguh-sungguh percaya bahwa apa saja yang kita alami adalah pemberian Allah dan yang terbaik bagi kita. Kendati secara dangkal, acapkali kita dan terkadang saya sendiri memandang sesuatu itu tidak ada manfaatnya.

Pernah suatu ketika saya kesal dan menyesalkan satu kejadian. Untunglah, seorang teman segera menegur, ”Allah yang menciptakan kita dan pastilah Allah tahu apa yang terbaik bagi kita.” Tidak gampang memang. Akan tetapi, apa salahnya dicoba?

Nah, apabila kita sudah mampu berpikir positif seperti itu, kita akan sanggup mengintip dan mengutip yang terbaik atas kejadian terburuk sekalipun.

Tahun demi tahun berlalu. Urusan Spiritual para guru dan siswa SD Plus Rahmat menjadi urusan keprihatinan dan protes. Pihak Yayasan dan segenap rekan guru PG-TK (satu naungan) memberikan seruan moral agar SD Plus Rahmat tak melupakan urusan spiritual anak didik dalam mengejar prestasi. Jangan sampai prestasi menimbulkan kerusakan nilai-nilai spiritual. Tahun ini peningkatan spiritual branding sangat dibutuhkan. Dari cuplikan kisah diatas, harapan terbesar saya pada tahun pelajaran ini adalah bagaimana aspek spiritual bisa menjadikan para guru, orang tua, dan anak didik  gemar beribadah dan gemar beramal saleh. Saya pikir perlu ada kebijakan tentang hal itu.

Di sekolah-sekolah yang sistem pendidikan spiritualnya bagus, orang-orang yang peduli pada pendidikan spiritual sibuk memikirkan bagaimana sekolah-sekolah bisa menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas. Mereka risau misalnya, ketika sekolah hanya memusatkan perhatian pada aspek kecerdasan intelektual dan mengabaikan kecerdasan yang lain, yakni kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

Saya tahu bahwa keberhasilan pendidikan selalu dimulai dari rumah. Siswa-siswa yang hebat biasanya lahir dari rumah yang menjunjung tinggi pendidikan dan pengetahuan. Rumah yang  memiliki buku-buku, memiliki Al-Quran, yang didalamnya ada orang tua yang gemar membaca buku, membaca Al-Quran serta mentadabburinya setiap hari. Kebanyakan rumah para ornng tua murid tidak seperti itu.

Dengan kondisi rumah-rumah yang kebanyakan tidak memiliki buku pengetahuan maupun buku agama, maka seluruh urusan pendidikan anak dipasrahkan pada sekolah. Urusan Ibadah anak dipasrahkan pada sekolah. Akibatnya, pembiasaan anak-anak kurang seiring antara sekolah dan rumah. Sambil menunggu revisi kebijakan itu di hari-hari mendatang marilah kita terus berupaya memperkuat aspek spiritual.

 

One thought on “Membangun Spiritualisme

Tinggalkan Balasan

20 − six =