*oleh : Ruhana Mayasari S,Ag (Korbid IMTAQ 2017/2018)

SD Plus Rahmat senantiasa berupaya menjadi ruang belajar anak yang terhubung dengan dunia kehidupan mereka. Pendidikan dasar jenjang kelas 1 ini merupakan pendidikan moral kepribadian yang tidak sekadar mengejar kemampuan akademik. Mengingat, standar pendidikan untuk anak sangat jauh berbeda dengan standar pendidikan orang dewasa. Anak-anak di SD Plus Rahmat tidak hanya belajar pengetahuan saja. Melainkan pengetahuan yang didapat di sesuaikan dengan fase perkembangan moral anak. Sehingga mereka tiada pernah lelah bersekolah meskipun hampir sepertiga waktu mereka, ada di sekolah.  Pada pelajaran Pendidikan Agama Islam, seringkali mreka membuat poster secara berkelompok.

Bingkai Poster (Peraturan Makan) dari bahan daur ulang (Foto : Ustadzah Maya)

Di lain waktu, mereka mengumpulkan bahan daur ulang plastik dan kardus untuk membuat bingkai dan juga membuat kapal. Memilah sampah plastik untuk dijual ke bank sampah juga menjadi bagian pembelajaran anak didik di SD Plus Rahmat. Alur kegiatan anak-anak jenjang kelas 1 memang lebih banyak move on atau senantiasa berpindah.

Mereka juga diajak membuat gerabah yang berbahan dasar tanah liat. Anak-anak justru betah membuat karya gerabah ini. Usai dikeringkan, mereka pun bersuka cita mengecat serta melukisi gerabah mereka. Usia anak adalah usia pra moral dan pra konvensional, kata  Lawrence Kohlberg. Usia dimana tindakan seorang anak lebih berorientasi kepada naluri seorang anak. Dunia anak memang memiliki logikanya sendiri.

Adu Kreatif dalam membuat Kolase Lafadz Allah (Foto : Ustadzah Maya)

Seakan tak mau diam, di sela-sela pondok Ramadan, anak-anak pun membuat kolase unik dari kertas lipat. Beberapa karya mereka berhasil menjadi juara. Usia anak adalah usia di mana mereka membutuhkan keterlibatan orang dewasa untuk berkembang menjadi generasi yang berkualitas. Karena itu, mendidik anak harus benar-benar menjadi prioritas utama. Sebab, ia adalah pesan hidup tentang generasi masa depan sebuah bangsa. Bila kita gagal mendidik anak, berarti kita gagal membangun masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

nineteen − fifteen =