Sebagai seorang anak warga Indonesia asli, yang lahir di Kediri pada 10 Mei 1943, saya merasa perlu menorehkan catatan harian yang muram dikala remaja. Tepatnya pada rentang tahun 1965. Barangkali ini hanyalah sesobek kertas kusam. Namun akan sangat bermanfaat di pengadilan Indonesia, maupun di pengadilan International, bahwa para anggota PKI, memang tidak mengenal perikemanusiaan .

Saat itu kebijakan NASAKOM Presiden Soekarno yang terbit sejak 1960, telah membuat anggota PKI menjadi jumawa.

Sebagai pemuda muslim, di Kediri, saya melihat langsung dengan mata kepala sendiri, salah satu bentuk nyata penyerobotan lahan itu adalah peristiwa Djengkol, di Kabupaten Kediri. Saat itu, masyarakat diiming-imingi janji akan mendapat tanah 100 are, asalkan mau menjadi anggota Barisan Tani Indonesia, sebuah organisasi underbow nya, PKI. Para petani yang terpesona, berbondong-bondong masuk menjadi anggota Barisan Tani Indonesia

Setelah mendaftar menjadi anggota BTI, para petani itu akhirnya mendapat bagian tanah masing-masing 100 are yang diharuskan menanam pisang. Padahal, tanah tersebut adalah milik pabrik Gula. PKI mengklaim sekaligus menyerobot tanah tersebut dengan seenaknya, dengan cara mengajak petani menyerobot secara sepihak.

Management Pabrik Gula Ngadirejo, tidak terima dengan aksi sepihak PKI tersebut, membuldozer tanaman pisang tsb. Namun, setelah dibuldozer, keesokan harinya, mereka menanaminya lagi. Begitulah seterusnya.

Jelas, aksi tersebut merupakan perbuatan melawan hukum. Lalu pabrik gula melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Celakanya, polisi tidak berdaya menghadapi massa PKI yang jumlahnya sangat banyak.

Sebab, satu sektor hanya berjumlah 7 orang polisi. Dan kejadian tersebut dilaporkan ke Ondet District Militer (ODM)

Para anggota BTI tersebut, berhadapan dengan militer.

Ketika, diminta bubar oleh ODM, mereka tidak mau. Bahkan para BTI, ngotot melawan, menghimpun tenaga utk mempertahankan tanah yang telah mereka duduki tersebut. BTI kemudian menggalang massa.

Sementara, para tokoh PKI, sebagai dalang saja. Para pengurus PKI, tersenyum melihat hasil hasutan mereka, kepada para petani, berhasil. Para PKI, memang sengaja mengorbankan rakyat sebagai tumbal dari rencana mereka. Sebagai dalang, mereka duduk manis dibelakang, dengan kaki ongkang-ongkang.

Dalam aksi penyerobotan lahan pabrik gula Ngadirejo ini, PKI bertindak lebih keji lagi. Mereka menghasut para wanita untuk masuk Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI). Setelah berhasil dihasut masuk barisan penyerobotan tanah Pabrik Gula Ngadirejo, para Gerwani dimasukkan ke dalam sebuah barisan untuk menghadapi militer.

Biadabnya lagi, para Gerwani ini, ditempatkan dibarisan paling depan, berfungsi sebagai bamper. Inilah kelicikan PKI, karena para tentara, pasti segan untuk menyerang wanita.

Lebih licik dan biadabnya lagi, para pengurus inti PKI menyuruh para Gerwani berdiri dibaris terdepan, sambil menenteng senjata tajam, berkecak pinggang.

Astaghfirullah, saya (M. Ibrahim Rais) dan kawan-kawan pemuda Muslim lainnya, sampai membuang muka, melihat perilaku Jahiliyah para Gerwani. Para militer sengaja dibikin gemetar, dilemahkan, dibangkitkan syahwatnya, agar tidak berani menyerang.

Saya (M. Ibrahim Rais) tak menyangka bahwa di Nusantara ini bisa tumbuh perilaku Jahiliyah dan laknat, sebagaimana yang terjadi sebelum adanya Rasulullah Muhammad SAW.

Saya (M. Ibrahim Rais), sendiri, tak habis pikir, dengan strategi licik PKI menempatkan wanita sebagai barisan terdepan, untuk menghadapi militer.
Di belakang barisan Gerwani, ada barisan BTI, di belakang BTI, ada Pemuda Rakyat, yang berdiri dibarisan belakang.

Para Gerwani tersebut, melenggak-lenggok seperti penari sambil mencaci maki para militer. Para Gerwani ini, dipimpin oleh seorang gadis anak seorang Lurah Jagul, Kecamatan Wates, bernama Sugiarti.

Bak seorang panglima Gerwani, Sugiarti berperilaku seperti Hewan. Gadis ini di atas Jeep Willis terbuka, mengacungkan senjata tajam, kearah para tentara, memimpin para Gerwani.

Para Gerwani, nekat merangsek menghadapi militer. Mereka bersemangat melakukan aksi ini, tanpa beban, dan tersenyum bangga dengan kebiadaban perilakunya, karena ajaran Communist memang bebas nilai-nilai dan tidak mengenal agama dan tata susila.

Serangan Gerwani tersebut, membuat militer panik, mereka menembakkan senjata kearah lain untuk menakut-nakuti, namun ada juga yang terkena tembakan. Pasukan ODM, melakukan hal tersebut, karena para Gerwani, sudah keterlaluan. Akhirnya, mereka bubar juga.

Peristiwa tersebut, dijadikan PKI sebagai bahan fitnahan kepada aparat militer yang telah membantai Rakyat. Peristiwa ini (pemfitnahan oleh PKI) terus menerus disuarakan oleh PKI.

Mayor Hambali, Komandan ODM yang mengambil alih tanah pabrik gula Ngadirejo tersebut, di olok-olok oleh mereka dengan lagu Otek-otek anak ayam, saat itu lagu ini sangat populer. Namun lagu ini, diplesetkan syairnya menjadi Tek Otek-otek, Hambali disambar gledek (petir).

Dalam aksi penyerobotan tanah tersebut, selain menyerobot tanah milik Negara, sasaran PKI adalah tanah milik para Haji. Yang namanya Haji, pastilah orang kaya.

Jika tidak kaya, tidak mungkin bisa naik Haji. Saat padi-padi siap di panen, hasil panen milik para Kyai dan Haji , malah dipanen dan dibabati oleh PKI.

Tindakan seperti ini, tentu saja, membuat membuat situasi keruh. Timbulah perlawanan dari para Santri. Aksi-aksi teror PKI ini mengakibatkan kebencian masyarakat dan orang-orang Islam khususnya. Secara alami, tumbuh kebencian ummat Islam kepada PKI.

Aksi-aksi penyerobotan tanah tersebut, tidak hanya terjadi di Kediri, tetapi juga terjadi di daerah lain, misalnya, Blitar. Di Blitar, orang-orang BTI melakukan aksi-aksi yang tidak kalah demonstratif.

Situasi ketegangan itu, terus memanas ditengah sikap masyarakat anti PKI yang juga semakin menguat. Namun aparat tidak bisa berbuat banyak.

Para aparat terkadang cenderung ragu dan membiarkan peristiwa tersebut. Karena aparat membiarkan aksi tersebut, membuat aksi-aksi PKI semakin menjadi-jadi. Puncaknya, terjadi peristiwa-peristiwa keji PKI di Kediri, termasuk salah satunya pertiwa Kanigoro.

Peristiwa Kanigoro

Saat tragedi Kanigoro, saya (M. Ibrahim Rais), ada disana. Saya (M. Ibrahim Rais), malah jadi panitia pada acara Pelatihan Pelajar Islam Indonesia, tanggal 13 Januari 1965. Saat itu, saya (M. Ibrahim Rais) sudah menjadi Mahasiswa dan aktif di organisasi PII. Namun, akhirnya, kuliah saya (M. Ibrahim Rais) Drop Out, karena harus berjuang melawan PKI.

Saat kejadian tragedi Kanigoro, saya (M.Ibrahim Rais), menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri, para perempuan dilecehkan oleh PKI.

Para peserta putri, meronta dan menangis. Kami sebagai peserta lelaki tak bisa apa-apa, karena tangan kami diikat, dan ditodongkan senjata ke kepala kami.

Para PKI memasuki masjid dengan kaki yang kotor dan menghina Kyai Jauhari. Bahkan kepala Kyai diludahi. Kami tersentak ketika para PKI menginjak-injak Al-Qur’an: “Iki lho sing marahi gudigen (ini lho, yang membikin penyakit kudisan para santri)”. Kemudian seluruh Al-Qur’an, dimasukkan ke dalam karung.

Kemudian, para lelakinya digiring dan ditakut-takuti, bahwa mereka akan dibantai. Para PKI itu mengatakan: “Orang-orang ini, kita bunuh saja. Ini adalah balasan yang telah kita terima di Jombang”. Hanya, yang perempuan, nggak usah dibunuh.

Seluruh peserta di teror, lalu dibawa PKI dari pesantren Al-Jauhar yang dipimpin Kyai Jauhari, digelandang menuju kantor polisi. Dikemudian hari, kami mengetahui tindakan PKI ini, merupakan test case untuk mengukur kekuatan lawan. Mereka ingin mengetahui, seperti apa reaksi umat Islam jika salah satu komunitas Islam PII, diserbu oleh PKI.

Setelah kejadian itu, dilaporkan kepada tokoh-tokoh Islam, akhirnya umat Islam bangkit, melawan PKI. Sebab aksi brutal tersebut, tidak hanya ditujukan kepada PII, melainkan ditujukan kepada seluruh umat Islam, sebagaimana yang terjadi pada 1948 di Madiun, banyak tokoh Islam, dari kalangan NU dan Muhammadiyah, telah dibantai pada tahun 1948. Bahkan aparat polisi termasuk yang paling banyak dibantai.

Lubang-lubang penyembelihan telah disiapkan.

Bagi saya (M.Ibrahim Rais), selain PKI melakukan test case kekuatan, aksi seperti di Kanigoro adalah ajang latihan PKI untuk aksi-aksi yang telah dipersiapkan. Sebab para PKI, juga telah mempersiapkan lubang-lubang pembantaian yang dibuat oleh para PKI, diberbagai desa, di Kediri. Lubang-lubang itu, telah mereka buat sejak awal tahun 1965. PKI berdalih, lubang-lubang itu, buat ternak ikan, membuat batu bata, dan berbagai alasan lainnya.

PKI membuat daftar target mati, 20 juta nyawa manusia.

Bahkan yang paling menyakitkan bagi ummat Islam, saya (M. Ibrahim Rais) melihat saat penggrebekan para PKI bersama RPKAD, banyak ditemukan sejumlah dokumen yang menyebutkan, jika PKI menang, maka daftar orang-orang yang akan dibantai PKI, berjumlah 20 juta nyawa umat Islam.

Dokumen tersebut, banyak ditemukan pasca G-30S/PKI, hampir sama semua polanya, diberbagai daerah. Dan saya (M. Ibrahim Rais), sangat meyakini dokumen tersebut dibuat oleh PKI. Sebab saat Lenin dan Stalin berkuasa di Rusia, pembantaian 42 juta nyawa manusia juga terjadi di sana. Sedangkan Mao Tse Tung, juga membantai 50 juta nyawa manusia. (Humas_bangjon)

Tinggalkan Balasan

three × 2 =