Anda mungkin pernah mendengar  atau membaca sebuah ungkapan “guru merupakan figur paripurna yang layak jadi contoh.” Ungkapan tersebut sering diluncurkan pada awal-awal sosialisasi kurikulum 2013. Padahal, tidak banyak diantara kita para guru yang sanggup menjadi top figur sekaligus top model untuk siswa-siswi kita.

Dulu, saat saya melamar jadi guru SD, apalagi SD swasta, saya juga diminta banyak teman dan saudara membatalkannya. Bukan karena tidak heroik, melainkan “walah, cuma guru SD saja. Mbok ya dosen.” Itu seloroh teman-teman saya, para, MA, M.Kom atau Dr lulusan sekolah-sekolah ternama seperti: UI, IAIN, UNS dan UGM. Guru SD dianggap terlalu remeh. Mungkin itu pula yang membuat guru SD kita kurang diperhitungkan oleh negara dan merupakan status sosial yang tidak pernah terkenal di seluruh dunia seperti dokter atau insinyur.

Namun, saya tidak menyesalinya, apalagi guru SD itu kini menjadi besar dan berhasil mencetak tokoh-tokoh besar Indonesia. Demikian pulalah orang-orang tua yang masih mempunyai anak usia SD. Tidak banyak yang menghendaki karir-karir mini. Usaha-usaha yang super kecil atau karir yang tidak diperhitungkan orang. Kita hanya ingat judul-judul besar seperti dokter dan insinyur. Doktor atau sarjana. Jenderal atau Laksamana. Tidak ada yang berbicara guru SD,pengusaha yang menekuni bisnis sampah atau tinja. Menjadi penyair atau pemain teater. Padahal kalau hal-hal remeh itu dilakukan dengan penuh kesungguhan, siapa tahu bisa menjadi intan berlian.

Guru goBlog

Suatu saat saya ingin Anda membuka blog bang jon (guru goBlog SD Plus Rahmat Kediri). Di sela-sela mengajar, saya harap Anda masih sempat googling dan menyaksikan bagaimana kebahagiaan diraih oleh guru SD Swasta yang kini menjadi Guru Berprestasi 2014 dan Guru Berprestasi 2019. Padahal dulu, dia “hanyalah” guru biasa dan agak gaptek. Karir beliau mulai dari guru biasa hingga mampu menunjukkan kelebihannya hingga akhirnya dipercaya sebagai Koorjen (Koordinator Jenjang) kelas 6 selama 3 tahun berturut-turut, kemudian diamanahi menjadi Korbid (Koordinator Bidang) Kurikulum. Dan adapun kini, posisinya adalah Korbid Lomba yang konon tak pernah berjeda mengurusi lomba-lomba di jagad Kediri Raya. Namanya Ustadz Marjono.

Dia memulainya justru dari hal-hal kecil, namun dilakukan secara konsisten, dirangkai satu per satu sehingga menjadi besar. Guru gaptek itu kini menjadi guru berprestasi. Saya kira, itu pulalah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kebanggaan masyarakat belakangan ini.

Ustadzah Ulchi yang saya memanggilnya Mbak  Ulchi  juga memulainya sebagai guru Bahas Arab di SD Plus Rahmat Kediri.  Koordinator Seksi UMMI (Korsi), hingga menjadi ikon guru ekskul Kaligrafi. Dari situ, dia dipercaya melatih ekstrakurikuler Kaligrafi, lalu telaten membuat inovasi kaligrafi. Di lain waktu, beliau juga membuat jadwal muraja’ah tahfdz siswa baik di kelas hingga di rumah, dan menjadi Pembina lomba Kaligrafi. Beliau juga meraih juara 1 Lomba Kaligrafi kategori Naskah tingkat Kota Kediri.

Coba temani sehari saja dua orang itu, maka Anda akan menyaksikan keduanya tidak pernah mengabaikan hal-hal kecil. Napoleon Hill pernah berpetuah: ”If you cannot do great things, do small things in a great way.” Jadi, biarkan saja sesuatu itu dianggap remeh, “tetapi, aku akan melakukannya dengan penuh kesungguhan.” Dalam bahasa kepanduan, dilafalkan “On my honor, I will do my best.” Demi kehormatan, saya lakukan (berikan) yang terbaik. Andreas Harefa mengatakan, “Setialah kepada perkara-perkara kecil, niscaya suatu saat, dia akan memberi dampak yang dahsyat kepadamu.”

Pembaruan dari Hal Kecil

Demikianlah perubahan. Semua perubahan dikerjakan dari hal-hal sepele yang dikerjakan oleh orang-orang tertentu dengan penuh kesungguhan. Saya pun melakukan hal serupa. Saya juga mulai perubahan dari dalam kelas. Bukan dengan melamar jadi dosen, melainkan dengan melamar jadi guru SD. Saya berhadapan dengan anak-anak yang suka ramai ketika KBM, hingga berubah jadi disiplin. Dari anak-anak yang sukar konsentrasi, lalu setahap demi setahap mereka bisa berpikir fokus. Dari anak-anak yang berperilaku tidak produktif, lalu terangkai menjadi anak-anak yang santun dan tertuntun.

Pada PTS 4-10 Oktober 2019 ini, saya memiliki 32 potongan kertas dalam keranjang yang saya bagikan ke siswa. Para siswa akan menulis kalimat motivasi untuk PTS 1. Mas Musa menulis, “Saya siap PTS 2019”. “Saya mengerjakan PTS dengan jujur”. “Bismillah.”  Mbak Tata menulis, “ Saya siap PTS 2019.” “Saya pasti bisa mendapat nilai 100.” Sepanjang hari ketika masa istirahat, saya akan meminta mereka untuk berdiri dan  mengucapkan  kalimat motivasi tersebut dengan keras. Siapa pun yang sudah menulis kalimat motivasi  maka dia memiliki harapan besar dalam dirinya. Dalam pikiran saya, kalau hal-hal kecil itu kita lakukan terus-menerus dengan penuh kesungguhan, dia bisa saja menjadi besar. Dan saya memercayainya. (Ustadzah Maya)

Tinggalkan Balasan

one × 1 =