Pada Gebyar Muharram  Agustus 2020 ini, SD Plus Rahmat memperingatinya dengan mengadakan tausiyah online yang diikuti oleh seluruh siswa dan Ustadz/dzah Rahmaters. Materi yang diangkat adalah keutamaan bulan Muharram serta amalan sunah di bulan Muharram.

Video Materi Gebyar Muharram Rahmaters

Di bulan ini, sunah melakukan amalan ketaatan dan kebaikan sangatlah dianjurkan, karena memiliki banyak keutamaan saat mengerjakannya, selain itu amalan sunah yang dikerjakan pun akan berbalas pahala yang besar.

Muharram termasuk bulan yang dimuliakan. Saking mulianya, bulan ini dijuluki dengan syahrullah (bulan Allah). Muharam dikatakan mulia karena di dalamnya terdapat amalan sunah yang sangat dianjurkan.

Lalu apa saja amalan yang bisa dilakukan di bulan ini dan bagaimana keutamaannya menurut Islam? Berikut penjelasannya:

Salah satu amalan sunah utama yang dimaksud ialah mengerjakan puasa Tasuá dan Asyura.

Yaitu Jumát depan (9 Muharram) dan hari Sabtunya (10 Muharram)

Dalilnya: Wahai Rasulullah , Sekarang (10 Asyura umat Yahudi berpuasa).

Fadhilah puasa Asyura adalah diampuni dosa kecil setahun yang lalu.

Kesunahan puasa tanggal 9 Muharram disebutkan dalam hadits Tirmidzi dengan sanad hasan. Rasulullah bersabda;

“Kalau saya masih hidup tahun depan, maka di bulan Muharram ini akan saya ikutkan dengan tanggal 9 nya. Agar tidak sama dengan Yahudi.”

Hadits lain  pada hadits riwayat Abu Hurairah: “Seseorang datang menemui Rasulullah SAW, ia bertanya, ‘Setelah Ramadan, puasa di bulan apa yang lebih afdhal?’ Nabi menjawab, ‘Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharam.” (HR Ibnu Majah).

Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan sebagai berikut. “Puasa yang paling utama setelah Ramadan ialah puasa di bulan Allah, Muharam.

Puasa Asyura atau puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 10 Muharam akan lebih  sempurna ketika dilakukan pada 9,dan 10 Muharam.

Sementara Imam an-Nawawi berkata: “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil, atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar”. [Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, an-Nawawi 6/279]

Selain berpuasa di 10 Muharam, melakukan amalan lain juga dianjurkan di antaranya bermuhasabah atau introspeksi diri.

Rasulullah bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) serta beramal saleh sebagai persiapan menghadapi kematian”.

Kemudian dalam sebuah ayat disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Ayat tersebut mengingatkan umat Islam untuk bisa terus mengintrospeksi dan mengevalusi semua perbuatan yang pernah dilakukan di masa lampau dan bertujuan untuk memperbaikinya pada massa depan serta meningkatkan iman sebagai bekal di hari akhir.

Selain berpuasa dan muhasabah diri, salah satu keutamaan lainnya pada bulan ini adalah mengenang hijrah Rasulullah saw.

Bulan Muharam juga dimaksudkan mengingatkan umat Islam untuk mengenang hijrah yang dilakukan Rasulullah dari Mekah ke Madinah pada akhir bulan Shafar, dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabiul Awal.

Sesampainya di Madinah, Rasulullah dan pengikutnya memulai babak baru perjuangan Islam. Perjuangan demi perjuangan pun mulai dilakukan Rasulullah untuk menyampaikan wahyu Allah dan mendidik manusia agar memanfaatkan waktu masih hidup dengan sebaik-baiknya.

Waktu itu akan terus berputar, tak akan kembali.

Kalau kita semua tidak berbuat baik hari ini, maka kita sendiri yang rugi.

Ada kesempatan untuk belajar, jika tidak digunakan maka kita yang rugi.

Ada kesempatan untuk sedekah, jika tidak digunakan maka kita yang rugi.

Ada kesempatan untuk salat dengan baik dan khusyuk, jika tidak digunakan maka kita yang rugi. Hari ini akan hilang, besok akan berganti. Demikian Allah sudah menetapkan. (Maya)

Tinggalkan Balasan

twelve − two =