Seperti biasanya ketika papaku ada tugas kedinasan dan mama juga ada kegiatan sekolah, aku selalu dititipkan kerumah mbok’e (panggilan sayangku kepada nenekku).  Meskipun tempatnya dipegunungan dan jaraknya pun lebih jauh dari rumah, namun aku selalu memilih kesana daripada ke rumah babukku (panggilan sayangku kepada nenekku satunya), karena disana ada Mbak Vita (anaknya pakpuh ku yang seusia denganku) dan juga banyak anak-anak yang asyik diajak mainan.

Ketika sedang asyik bermain masak-masakan, tiba-tiba kami dikagetkan dengan teriakan orang minta tolong.

“tolong-tolong… (sambil terdengar suara isak tangisan)” dan kami pun langsung berhamburan mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata, ada tetangga mbok’e yang sedang sakit parah sudah cukup lama sedang sekarat. Ketika semua keluarga gugup, ada salah satu tetangga yang berlarian mencoba memanggil dokter di rumah dinas dekat puskesmas, namun ternyata dokternya tidak ada.

Kemudian salah seorang keluarga yang lain mencoba berusaha menelpon kenalan dokter, namun juga nihil karena sinyal di daerah pegunungan cukup sulit. Tiba-tiba aku reflek menyampaikan usul “dibawa kerumah sakit saja mbok, nanti biar dibantu temennya mama” ucapku kepada mbok’e.

Setelah mbok’e menyampaikan ke salah satu keluarganya, akhirnya disepakati dan diangkutlah si sakit ke rumah sakit. Namun, sayang setelah beberapa waktu terdengar kabar bahwa orang tersebut sudah meninggal ketika dalam perjalanan kerumah sakit, yang jaraknya lumayan jauh. Innalillahiwainnailaihirojiun, rasanya sedih banget lihat kejadian itu.

Senjapun tlah tiba, setelah mandi, makan dan sholat Maghrib di musola Mbah Warji, sambil menunggu dijemput papa dan mama, aku bermain monopoli sama Mbak Vita. Tiba-tiba aku ingat kejadian siang tadi ketika ada tetangga mbok’e yang sakit hingga akhirnya meninggal. Aku bertanya kepada mbok’e :

mbok, kenapa tadi Mbah Ti sakit parah gitu kok tidak dirawat di rumah sakit?”.

takut nduk” singkat jawab mbok’e.

lhoh emang takut kenapa?” lanjutku bertanya.

takut, karena ndak punya uang buat bayar rumah sakit, katanya ndak bayar, prettt… tapiribet belum wira-wirinya”. Kata mbok’e.

ooo…” sambil aku mengangguk, lalu lanjut bermain kembali.

Ditengah permainan, aku kembali teringat kejadian siang tadi. “aku nanti kalau sudah besar mau jadi dokter saja wes mbok, nanti aku mau buka klinik disini, biar bisa bantuin ngobatin orang yang sakit, biayanya seikhlasnya saja. Kasihan orang-orang disini, mau berobat saja susahya”, celotehku.

loh, bukannya kamu pengen jadi guru tho nduk, kayak papa sama mamamu”. Jawab mbok’e dengan sedikit kaget.

iya juga seh mbok, tadinya aku mau jadi guru. Katanya papa jadi guru itu pekerjaan mulia, pahalanya terus mengalir sampai kita meninggal nanti, tapi jadi dokterkan juga mulia tho mbok, bisa nolongin orang yang membutuhkan, bisa nyelametin nyawa orang kan?” cobaku menjelaskan.

iya bener nduk, wes apapun keinginan dan cita-citamu, semoga Allah ridho, Allah mudahkan dan Allah ijabahya”. Jawab mbok’e sambil mendoakanku. “amin” pungkasku. 

Sesaat kemudian papa dan mama datang menjemputku. Karena sudah malam dan besok harus masuk sekolah, maka kami langsung berpamitan sama mbok’e. Sepanjang perjalanan, di dalam mobil, aku yang biasanya langsung pulas tidur, ini aku masih saja susah merem. Akupun menceritakan kejadian tadi siang sama papa dan mama. Aku pun menyampaikan keinginanku untuk menjadi dokter:

pa ma besok aku gak jadi guru aja, aku mau jadi dokter aja yah, bolehkan? Nanti bayarnya seikhlasnya saja, supaya bisa bantu orang-orang berobat dengan mudah”.

Papaku langsung meminggirkan mobilnya, kemudian mereka berbalik arah menoleh belakang “beneran dek…?” sambil sedikit takut papaku marah, aku jawab dengan tegas “iyapah, ndakapa-apakan?”.

sangat boleh sayang, cita-citamu sangat mulia, mama sama papa pasti mendukungmu” sahut mama.

Alhamdulillah” gumamku.

iya, berarti mulai sekarang harus lebih giat belajar dan berdo’a ya, semoga Allah ijabah dek” tambah papaku, sambil kembali melajukan mobil. “Alhamdulillah, makasih ma, pa” pungkasku, sambil berdoa dalam hati “semoga Allah kabulkan aku menjadi dokter” dan lalu aku tertidur pulas.



Karya Terbaik Kedua Kategori 2 dalam Rahmat Olimpiade Menulis Online

Penulis : Marya Angelia An-Nafii’ RahayuKelas 4A

Mau tau cerpen seru dan inspiratif lainnya? Mau dapetin bukunya? Yuks segera PO aja dengan cara kontak wali kelas masing-masing ya atau kontak bang jon – 0822 3363 8107 atau kontak Ustadah Luci – 0813 3561 6881 atau langsung klik disini



Tinggalkan Balasan

5 + 3 =