Namanya Maya, dia anak baru di kelasku. Dia baru masuk hari ini dan duduk disebelahku. Anaknya sangat pendiam, hampir tidak pernah tersenyum.  Kadang kadang saat kulirik, dia sedang melamun dan sesekali matanya berkaca kaca.  Aku jadi penasaran tentangnya. Bel sekolah tiba-tiba berbunyi, kami berhamburan pulang. Belum sempat pula aku menyapa Maya.

          Minggu pagi ini, aku membuka jendela kamarku dan menikmati udara segar. Pandanganku tertuju pada rumah nenek Rahmi yang berada di ujung gang. Kamarku berada di lantai 2 sehingga terlihat Maya yang sedang menyapu halaman rumah nenek.

“Itukan Maya, anak baru itu” gumamku sambil tersenyum tipis.

Aku jadi tidak sabar untuk berkenalan dengannya besok di sekolah.

            Tak terasa hari sudah beraganti hari. Pagi ini udara sangat sejuk, itu membuatku menjadi lebih semangat untuk sekolah. Setelah sholat subuh, aku bergegas mandi dan sarapan. Kulihat Maya berjalan sendirian menuju sekolah. Karena sekolah kami tidak jauh dari rumah, aku memilih berjalan kaki sajauntuk menemani Maya. Setiap aku mendekatinya, Maya langsung berlari. “ Ada apa dengannya?” tanyaku sejenak.

          Setelah 8 menit berjalan, kami sampai di sekolah. Maya duduk di tempat yang ia duduki sabtu lalu, persis di sebelahku. Bel masuk berbunyi. Ini waktunya pelajaran matematika. Semua bergegas mengambil buku matematika yang berada di dalam tasnya masing-masing. Hingga akhirnya tugas  diberikan. Alhamdulillah, aku bisa mengerjakannya dengan mudah. Namun, ku lihat Maya kesulitan mengerjakannya.

“Maya, apa aku boleh membantumu? Kau seperti terlihat kesulitan” ucapku pada Maya.

 “iya, baiklah” ucap Maya dengan suara lembutnya.

Aku membantu Maya mengerjakan soal-soal. Maya berterimakasih kepadaku dengan senyuman manisnya.

          Sepulang sekolah, aku bertanya kepada ibu tentang Maya. Ibu mulai bercerita.  Subhanalloh, ternyata Maya adalah cucu nenek Rahmi yang selama ini tinggal di Palu. Dia sekeluarga baru tiga tahun tinggal di Palu karena mengikuti ayahnya pindah tugas sebagai aparat keuangan negara. Ayah, ibu dan adik Maya meninggal dalam bencana Palu.  Nenek Rahmi membawanya kesini. Aku baru mengerti mengapa selama ini Maya terkadang menangis sendiri dan sangat pendiam.  

          Sebulan telah berlalu, kami sudah sangat akrab. Dirumah, kami sering bermain bersama dan juga belajar bersama. Ternyata, Maya sangat pandai menggambar. Aku tidak terlalu pandai  menggambar. Tapi, Maya sering mengajariku.  Sekarang gambaranku lebih bagus dari yang dulu. Aku juga sering mengajari Maya berhitung matematika. Alhamdulillah, nilai matematika Maya yang dulunya merah sekarang jadi lebih baik.

          Pagi ini, kami berboncengan menaiki sepeda milikku untuk pergi ke sekolah. Tapi sayangnya, tempat duduk kami terpisah karena Bu Winny yang mengatur tempat duduk. Itu semua tidak menjadikan aku dan Maya terpisah begitu saja. Saat Istirahat telah tiba.  Pergi ke kantin pun kami selalu bersama.

Nah, Sepulang dari kantin, kami melihat pengumuman di mading sekolah kami. Disitu tertulis bahwa akan ada lomba menggambar tingkat kota. Hadiahnya, piala dan uang senilai 1 juta  rupiah.

 “Ikut gih… May, pasti kamu menang, gambaranmu kan yang paling baik ” ucapku sambil menyenggol pundak Maya.

“Bismillah…oke deh, doain ya” ucap Maya sambil mencermati pengumuman itu.

          Hari ini, Maya tidak masuk sekolah karena sedang mengikuti lomba itu. Aku jadi tidak ada teman di sekolah. Huhuhu….

          Esok harinya, seperti biasa kami melakukan kegiatan-kegiatan di hari weekday. Saat istirahat sekolah, kami menghampiri mading untuk melihat hasil lomba kemarin. Tertulis juara pertama adalah Maya Meydina dari SD Merdeka. Ya, Maya memenangkan lomba ini! Maya sangat senang. Sepulang sekolah, Bu Winny memberikan hadiah piala dan uang kepada Maya. Kamu memang hebat Maya!

          Minggu pagi ini, aku membuka buku diary­-ku dan menulis tentang Maya.

           Dear Maya,      Terimakasih sudah menjadi sahabatku. Aku ingin mengurangi beban hidupmu dan menjadi bagian dari kebahagiaanmu. Selamanya, aku tak akan melupakanmu, sahabatku. Aku bersyukur bisa menjadi sahabatmu.

Karya Terbaik Pertama Kategori 3 dalam Rahmat Olimpiade Menulis Online

Penulis : Arinal Haque Majida (Jida) – Kelas 6E

Mau tau cerpen seru dan inspiratif lainnya? Mau dapetin bukunya? Yuks segera PO aja dengan cara kontak wali kelas masing-masing ya atau kontak bang jon – 0822 3363 8107 atau kontak Ustadah Luci – 0813 3561 6881 atau langsung klik disini

Tinggalkan Balasan

2 × 3 =