Liburan kemarin aku menonton film Aquaman bersama kakakku. Awalnya aku suka dengan tokoh superhero dalam film itu, namun setelah melihat kakakku, aku merasa hero yang sesungguhnya adalah orang-orang seperti kakakku dan teman-temannya. Kenapa? Karena di usia muda mereka sudah berani tinggal dan hidup jauh dari orangtua. Iya, kakakku bersekolah di Pondok Pesantren yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggal kami.

Awalnya, saat masih di rumah kakakku adalah anak yang cukup manja. Emm, sebenarnya bukan hanya kakakku sih, aku dan adikku juga, hehe…. Karena memang di rumah segala fasilitas tersedia dan apa pun kebutuhan kami terpenuhi. Nah, saat kakakku mulai mondok inilah aku bisa melihat bagaimana perjuangan para santriman itu. Awal mondok, kakakku sering menangis. Takut berpisah dari orang tua. Melihat kakakku menangis, akumenjadi sedih. Ia yang terbiasa bersama kami, mendadak harus tinggal jauh dari orangtua dan saudara. Hidup dengan orang-orang baru yang ia tidak kenal sebelumnya. Meski sudah di dampingi dan dinasihati oleh Ustad,, kakakku tetap saja menangis. Bahkan hingga jatuh sakit. Aku kasihan melihat kakakku. Kami semua jadi sering mengunjungi kakak. Kata bunda, kakak harus sering dijenguk agar tidak merasa kesepian. Agar ia tetap merasa dekat dengan keluarganya. Aku sih senang saja, karena jadi sering ijin untuk tidak masuk sekolah. Hehe….

Beberapa minggu di pondok, aku melihat kakakku mulai bisa beradaptasi. Mulai akrab dengan teman-teman sekamarnya. Aku juga jadi mengenal beberapa orang dari mereka karena seringnya berkunjung ke sana. Saat berkunjung itulah, aku melihat kakakku mulai mandiri. Ia mencuci bajunya sendiri, merapikan tempat tidur, mencuci piring serta menata lemari sendiri. Di pondok sebenarnya ada jasa laundry, namun bunda bilang kalau bisa mencuci sendiri, lebih baik di cuci sendiri saja. Kata bunda lebih hemat. Agar uang saku kakak tidak cepat habis.Lagi pula sebelum berangkat mondok, bunda sudah mengajari kakakku mencuci, mengepel, menyapu hingga mencuci piring. Jadi sebenarnya ia sudah bisa melakukan itu semua.

Saat pertama kali ditinggal kakak mondok, aku merasa kesepian. Aku yang terbiasa melakukan segala sesuatu berdua dengan kakak, kini harus sendiri. Bermain sendiri, bersepeda sendiri dan ke masjid sendiri. Awalnya tidak enak, terasa ada sesuatu yang aneh. Aku  sering kangen saat-saat bermain bersama kakak. Tapi lama kelamaan jadi terbiasa. Lagi pula aku masih mempunyai adik yang meski selisih umur kami agak jauh, tapi lumayanlah sebagai pengganti kakak untuk bermain denganku. Sekarang sudah setahun kakakku mondok. Kini ia bukan lagi Dewari yang manja dan cengeng. Kakakku sekarang menjadi anak yang dewasa, berani dan mandiri. Dan nantinya setelah lulus dari SD, aku pun akan mengikuti jejak kakakku untuk menjadi santriman. Orangtua kami berencana memondokkan aku di tempat yang sama dengan kakakku. Sekarang saja aku sudah sering membayangkan bagaimana saat mondok nanti, apakah aku akan menangis seperti kakakku? Bagaimanakah teman-temanku nanti? Dan berbagai bayangan menyenangkan lainnya.Sepertinya akan seru. Sungguh aku ingin menjadi seorang santriman. Santriman yang mandiri, berani serta sholih. Penghapal Al-Qur’an yang berakhlak mulia dan tentunya bisa membanggakan kedua orang tua. Ini lebih hebat dibanding menjadi Aquaman bukan?. Doakan aku berhasil ya teman-teman….

Karya Terbaik Kedua Kategori 3 dalam Rahmat Olimpiade Menulis Online

Penulis : Syahraja Al-Ghifari Amanta (Raja) – Kelas 5C

Mau tau cerpen seru dan inspiratif lainnya? Mau dapetin bukunya? Yuks segera PO aja dengan cara kontak wali kelas masing-masing ya atau kontak bang jon – 0822 3363 8107 atau kontak Ustadah Luci – 0813 3561 6881 atau langsung klik disini



Tinggalkan Balasan

thirteen − 8 =